pinn

Cuteki eCards

BELAJAR CINTA DARI PARA PECINTA SEJATI

Kamis, 06 Oktober 2011

                

                Cinta sejati, adalah yang selalu memberi (Give) begitu dawuh Romo Kiai Budi Harjono, dalam setiap kesempatan mengajinya. Tidak ada pamrih didalamnya kecuali cinta itu sendiri, sebagaimana yang telah di contohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang selalu siap memberi cinta pada umatnya, rasa cintanya Kanjeng Nabi pada umatnya, tak pernah surut dan selalu hidup dalam sanubarinya sampai menjelang di pundhutoleh Yang Maha Kinasih Allah SWT.
“Ummati.. Ummati.. Ummati..” Hanya itu yang keluar dari bibir suci Kanjeng Nabi, suara lirih itu keluar semata-mata sebagai bukti kecintaan beliau kepada ummatnya.
Bahkan Gusti Allah pun lebih suka mendahulukan pesan cinta melalui Asmanya “arRahman arRahim” dalam pembukaan kitab sucinya dengan “Bismillahirrahmanirrahim”. Padahal asma dan sifat Tuhan begitu banyak, ada Asma’ul husna, dan ada Sifat dua puluh, namun di antara sifat-sifat itu Allah lebih suka mendahulukan sifat Welas asihNya di banding sifat Maha penyiksa (Syadidul ‘iqab). Oleh sebab itu marilah kita belajar pada cara Tuhan bersikap, Allah lebih suka memberi Wahyu untuk awalan Mu’jizat-Nya dengan menunjukkan welas asihnya, bisa saja kalau Gusti Allah kerso (karena memiliki sifat Fi’lu mumkinin au tarkuhu) dalam wahyunya ke Kanjeng Nabi dengan ayat: “Bismillahi Syadidil ‘Iqab” umpama. Namun dalam basmalah justru yang di tunjukkan adalah kemaha Welas asihan-Nya.
Di negeri ini begitu banyak para Wali, Kiai, dan para Priyantun Shaleh yang selalu mencontohkan bagaimana bercinta tanpa pamrih, khususnya pada ummat, dengan penuh kewelas asihan, demi perdamaian. Berdamai dengan siapa saja, dan berdamai dengan apa saja, begitulah para wali, Kiai dan para Shalihin menunaikan cinta sejatinya. Cinta yang tiada sekat ras, suku, dan warna kulit yang berbeda. Bahkan Kanjeng Nabi pun tak pernah merasa benci pada para kuffar yang memusuhinya, jadi rasanya aneh di telinga kalau kita mendengar orang yang beralasan nderekke Kanjeng Nabi dalam setiap perbuatan merusaknya, mengebom demi menegakkan syariat Islam, Menteror demi agama Islam, merusak demi amar ma’ruf nahi munkar, semuanya itu selama tidak di dasari rasa welas asih dan perdamaian maka tidak lah bisa di benar kan.
Belajar cinta dari para pecinta sejati dengan selalu bermujalasah di majlis-majlis mereka, karena dengan selalu mendengar kata-kata cinta yang keluar dari mau’izhoh mereka, maka hati kita akan terasah rasa cinta dan welas asihnya,dan akhirnya tangan kita akan lebih mudah memberi di banding menerima, mulut kita akan lebih suka memuji di banding memarahi dan mencaci maki, dan hati kita lebih suka mengasihi di banding membenci.
Sebaliknya bila telinga kita hanya menerima masukan kata fitnah, dan hardikan saja, maka hati kita pun akan menjadi keras laksana batu, dan panas laksana api, yang siap kapan saja berkobar mendorong semua anggota tubuh kita untuk merusak, dan menghancurkan apa saja yang kita anggap tidak sama dengan kita. Tangan kita akan mudah merusak di banding menolong, mata kita lebih suka melotot di banding mengedip,dan  mulut kita lebih mudah membentak di banding menasehati.
Sungguh, rasanya hati ini akan terbuai dengan alunan indah para pencinta sejati, namun kadang juga akan terguncang menjadi sebuah gelombang dahsyat yang mengguncang dada kita dan menggelorakan rasa cinta pada Gusti Allah, Kanjeng Nabi, Kanjeng Sulthanil auliya syaikh Abdil qadir jailani, walisongo, dan semua pencinta sejati di jagad raya ini. semoga Tuhan selalu mengisi relung hati ini dengan samudra cinta yang tidak bertepi.

0 komentar:

Posting Komentar